Cermati Kebutuhan Sebelum Memilih Properti

Kumala Iman Dina

Hampir semua media cetak pada akhir pekan lalu memuat iklan tentang penjualan dan penyewaan properti hunian, baik rumah maupun apartemen. Pengembang bisnis properti berlomba-lomba menarik konsumen dengan berbagai cara, mulai dari bermain kata-kata pada iklannya hingga menggelar berbagai acara meriah di lokasi tertentu.

Promosi memang terus dilakukan. Bahkan, sewaktu banjir terjadi pada awal 2007, iklan properti berubah dengan janji-janji “permukiman bebas banjir” lewat berbagai media promosi, mulai dari selebaran, brosur, spanduk, hingga iklan di media elektronik.

Padahal, konsep iklan sebelumnya adalah menjual reputasi pengembangnya, kemewahan desain bangunan, fasilitas umum, keadaan lingkungan, keamanan, fasilitas kredit, sampai harga yang terjangkau. Belakangan, setelah banjir, konsep lama itu tak terlalu penting lagi.

Banjir bagi para pengembang bisnis properti jelas suatu hantaman, sekaligus tantangan untuk memperbaiki strategi promosi pemasaran dan segala infrastruktur yang ada, demi mendapatkan kepercayaan dan kepuasan konsumennya.

Lalu, bagaimana dari sisi konsumen properti? Sebelum memutuskan menyewa atau membeli suatu properti yang menjadi hunian impian, ada baiknya konsumen tidak cepat larut oleh janji-janji yang diberikan pengembang.

Teliti dan cermati dahulu apa yang menjadi kebutuhan dan kemampuan finansial. Selain itu, tentu urusan force majeure mulai sekarang harus dijadikan pertimbangan penting dalam memilih properti hunian masa depan. Mengingat banjir tidak hanya datang lima tahunan seperti yang diprediksi, tetapi sudah mengunjungi kita tanpa mengenal waktu.

Dari sisi kebutuhan, misalnya, para lajang dan pasangan muda yang memiliki tingkat mobilitas tinggi biasanya lebih memilih sebuah hunian di tengah kota yang mempunyai fasilitas cukup nyaman dan suasana aman. Kelompok ini menjadikan apartemen sebagai pilihan yang pas.

Pergi pagi dan pulang malam merupakan aktivitas keseharian para pekerja muda. Kebanyakan dari mereka memerlukan waktu singkat, akses yang cepat dan aman untuk menunjang aktivitas. Karena itu, tak heran jika faktor lokasi hunian menjadi pertimbangan utama.

Lingkungan segar

Pipit Mariana, seorang ibu satu anak sekaligus karyawan swasta di Jakarta Selatan contohnya. Perempuan ini mengaku selalu punya keinginan untuk memiliki rumah. Namun, dengan lalu lintas Jakarta yang selalu macet, membeli apartemen di tengah kota jadi pilihan. Dia mengaku tidak akan punya waktu untuk keluarga kalau tinggal terlalu jauh dari tempat kerja.

Lain lagi dengan pendapat Yuyun Indradi, seorang aktivis lingkungan yang lebih memilih rumah hunian di kawasan Bogor, Jawa Barat. Alasan dia, tingkat hunian yang padat dan polusi udara yang tinggi bisa membuat mood kerja seseorang menurun dan stres meningkat.

Oleh karena itu, Yuyun berpendapat, ruang hijau, keasrian, dan kesegaran lingkungan yang alami lebih menjadi faktor utama dalam memilih tempat hunian sebagai investasi bagi kesehatan. Dia mengibaratkan memilih hunian di tempat yang asri sebagai keputusan “menyelam sambil minum air”. Selain bisa memiliki rumah sendiri jika cicilannya kelar, tubuh juga akan tetap sehat saat tua nanti.

Ia menerangkan bahwa dengan fasilitas kendaraan umum yang lumayan, seperti kereta api dan akses jalan tol yang cukup lancar, tak membuat mobilitas aktivitasnya terhambat. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk melirik apartemen tengah kota yang kini telah banyak menambahkan fasilitas ruang hijau buatan untuk menarik minat beli konsumen.

Hanya saja, lokasi tempat tinggal di tengah kota masih menjadi pilihan utama bagi sebagian orang, termasuk Pipit. Selain dapat menghemat waktu dan tenaga, dia pun dapat menabung untuk membeli rumah idamannya kelak. Walau mengutamakan lokasi hunian tengah kota, sebenarnya apartemen bukanlah menjadi pilihan utama.

Sebuah rumah, meskipun berhalaman kecil, jauh lebih bagus untuk perkembangan psikologis seorang anak dibandingkan dengan apartemen mewah yang dibatasi dinding-dinding tembok.

Kocek dan kebutuhan

Melihat pertimbangan Pipit, boleh disimpulkan bahwa luas ukuran sebuah hunian di pinggiran kota bukan jaminan kaum muda menjatuhkan pilihan mereka. Mereka akan lebih memilih menyewa atau membeli sebuah rumah atau apartemen/kondominium berukuran studio yang terletak di tengah kota dengan harga sesuai kocek dan kebutuhan.

Terlebih sekarang ini bisnis properti hunian bukan saja mainan para pengembang properti grup besar. Sudah banyak alternatif hunian yang ditawarkan para pebisnis baru, bahkan individual. Bangunan baru di atas tanah tak terlalu luas dan bermodel ala apartemen banyak didirikan di beberapa lokasi strategis kota.

Ruang kamar yang difasilitasi mirip dengan sebuah apartemen ditawarkan dengan harga sewa yang jauh lebih murah dibandingkan apartemen sungguhan. Konsumen yang banyak meminati tawaran ini adalah para karyawan kelas menengah maupun mahasiswa. Hunian seperti ini disebut in-dekost.

Bagi konsumen sendiri, hal ini sangat menyenangkan dan menjadi alternatif yang lain. Tinggal pilih yang mana. Mengutamakan fungsi dan fasilitas yang diterima, prestise (gengsi), atau gabungan keduanya yang tentu saja harus sesuai dengan kemampuan finansial mereka. Justru di sinilah timbul persaingan pasar yang membuat bisnis properti hunian menjadi semarak.

Ingin memiliki hak kepemilikan properti dalam batas waktu tertentu dengan cara menyewa atau memiliki hak penuh atas kepemilikan rumah/apartemen tersebut. Tentu saja sekarang telah banyak pilihan. Jangan sampai kita berinvestasi dengan cara yang salah. Lihat dan cermati kemampuan dan kebutuhan sekarang serta di masa mendatang.

Banyak konsumen properti yang sering salah berinvestasi. Mereka hanya latah membeli hunian tanpa mencermati kebutuhan dan berprediksi (forecasting) ke depan.

Suatu investasi yang telah dikeluarkan sekarang belum tentu menguntungkan jika properti yang dibeli tidak dihuni. Biaya perawatan yang harus dikeluarkan dapat menjadi beban tambahan bagi sang konsumen. Belum lagi penyusutan nilai buku dan ausnya bangunan.

Karena itu, kembalikan lagi pada tujuan utama dan kebutuhan kita sebagai konsumen. Ingat, apa tujuan awal memilih sebuah tempat tinggal hunian.

Untuk berinvestasikah atau hanya untuk dinikmati masa sekarang dalam jangka pendek? Toh, fasilitas perbankan sudah banyak yang mendukung kemudahan kredit untuk mewujudkan impian memiliki rumah melalui sistem kredit lunak atau kredit pemilikan rumah/apartemen).

Kumala Iman Dina Pemerhati Properti. Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s