Time Management

Artikel ini saya dapat dari foward-an email teman saya di kantor lama , bondan … cukup menggelitik dan memberi wejangan kecil bagi saya.. ada beberapa kutipan yang di ambil dari buku  The Seven Habits of Highly Effective People..  saya tidak bilang sumber2 yang disebutkan adalah 100% valid,  silahkan dibaca, ditelaah sendiri , ambil yang menurut anda sesuai dengan kondisi saat ini… silahkan menikmati :p

NEVER FALL IN LOVE WITH YOUR COMPANY

Seorang CEO sebuah perusahaan IT dari India berbicara dalam sebuah sesi
dengan para karyawan tentang filosofi ini.
CEO tersebut termasuk dalam 50 orang paling berpengaruh dalam dunia bisnis
di Asia (dirilis oleh majalah Asiaweek).

INTINYA CERITANYA ADALAH :

CINTAILAH PEKERJAANMU, TAPI JANGAN PERNAH JATUH CINTA KEPADA PERUSAHAANMU,
KARENA KAMU TIDAK PERNAH TAHU KAPAN PERUSAHAANMU BERHENTI MENCINTAIMU
– Narayana Murthy.

Bagi yang tertarik membaca pandangan dia secara mendalam, berikut kutipan
kata-katanya :

Saya sering menjumpai orang-orang yang bekerja selama 12 jam sehari, 6 hari
seminggu, atau lebih..
Beberapa diantaranya melakukan hal tersebut karena diburu-buru oleh
deadline, memenuhi target yang telah ditetapkan.
Bagi mereka, waktu-waktu panjang yang penuh lembur hanyalah bersifat
sewaktu-waktu saja.
Adapula yang menjalani jam-jam panjang dalam hari-hari mereka selama
bertahun-tahun.
Entah karena orang-orang ini merasa telah mengabdikan diri sepenuhnya kepada
pekerjaan, atau bisa juga disebut workaholic.

Apapun alasan yang orang buat untuk bekerja lembur, kondisi tersebut
berpengaruh TIDAK BAIK kepada orang yang menjalani maupun orang-orang
sekitarnya.
Berada dalam kantor selama berjam-jam dalam rentang waktu yang lama, bisa
menimbulkan potensi yang cukup besar bagi yang menjalaninya untuk membuat
kesalahan.
Rekan-rekan saya yang saya kenal sering bekerja lembur, sering membuat
kesalahan karena faktor kelelahan.
Membetulkan kesalahan-kesalahan ini tentu saja membutuhkan waktu dan tenaga
tidak saja dari dirinya sendiri, melainkan orang lain yang secara langsung
maupun tidak langsung bekerja bersamanya.

Masalah lain adalah orang-orang yang bekerja pada perusahaan yang menetapkan
waktu kerja yang ketat seringkali bukanlah orang-orang yang secara pergaulan
menyenangkan.
Para karyawan dari perusahaan dengan tipe seperti ini sering mengeluh atau
komplain mengenai orang lain (yang tidak bekerja sekeras mereka). Mereka
menjadi mudah tersinggung, dan mudah marah.
Orang-orang lain menjauhi mereka.
Perilaku semacam ini secara organisasi tentunya merupakan masalah besar :
hasil besar akan dicapai oleh sebuah organisasi apabila ada jalinan harmonis
dalam kerja sama tim antar karyawannya, bukannya bekerja sendiri-sendiri dan
saling menjauhi.

Sebagai seorang manajer, saya harus membantu orang lain untuk meninggalkan
kantor tepat waktu.
Langkah pertama dan terpenting adalah saya lah yang harus memberi contoh dan
pulang ke rumah tepat waktu.
Saya bekerja dengan seorang manajer yang menyindir orang-orang yang bekerja
lembur terlalu lama.
Ajakannya menjadi kehilangan makna ketika orang-orang menerima emailnya dan
melihat jam email tersebut dikirim ternyata jam 2 pagi.
Untuk mengajak orang melakukan suatu hal, langkah terpenting adalah memberi
contoh dengan melakukannya sendiri.

Langkah kedua adalah mengajak orang untuk menjalani hidup yang seimbang.
Sebagai contoh, berikut ini adalah langkah-langkah yang menurut saya cukup
membantu :

1) Bangun pagi, sarapan dengan menu yang baik, lalu berangkat bekerja.
2) Bekerjalah dengan keras dan pintar selama 8 atau 9 jam sehari.
3) Pulanglah ke rumah.
4) Baca buku atau komik, menonton film yang lucu, kumpul-kumpul dengan
rekan-rekan.
5) Makan yang sehat dan tidur yang cukup.

Langkah-langkah ini disebut sebagai recreating.
Mengerjakan langkah 1, 3, 4, dan 5 akan memungkinkan langkah 2 dilakukan
secara efektif dan seimbang.

Bekerja secara normal dan mempertahankan hidup yang seimbang adalah konsep
yang sederhana.
Langkah-langkah tersebut mungkin akan sulit dilakukan oleh sebagian orang
karena orang tersebut akan menganggap perlunya perubahan mendasar yg
bersifat personal pada dirinya.
Sebenarnya langkah-langkah ini memungkinkan untuk dilakukan oleh setiap
orang, karena kita memiliki kekuatan untuk memilih apa yang akan kita
lakukan.

LOVE YOUR JOB BUT NEVER FALL IN LOVE WITH YOUR COMPANY.

Sedikit sisipan :

MANAJEMEN WAKTU, sebuah ilustrasi untuk semua orang.

Suatu hari, seorang ahli Manajemen Waktu berbicara di depan sekelompok
mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah
dilupakan para siswanya.

Dia mengeluarkan toples berukuran satu galon yang bermulut cukup lebar, dan
meletakkannya di atas meja.
Lalu ia juga mengeluarkan sekira selusin batu berukuran segenggam tangan,
dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples..

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi
yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya, “Apakah toples ini sudah
penuh?”
Semua siswanya serentak menjawab, “Sudah”.

Kemudian dia berkata, “Benarkah?”
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil.
Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit
mengguncang- guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara
celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, “Apakah toples ini sudah
penuh?”
Kali ini para siswanya hanya tertegun, “Mungkin belum”, salah satu dari
siswanya menjawab.

“Bagus!”, jawabnya.
Kembali dia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir.
Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah
langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.
Sekali lagi dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”
“Belum!” serentak para siswanya menjawab.
Sekali lagi dia berkata, “Bagus!”

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples,
sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya
“Apakah maksud dari ilustrasi ini?”
Seorang siswanya yang antusias langsung menjawab, “Maksudnya, betapa pun
penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha, kamu masih dapat menyisipkan jadwal
lain ke dalamnya”
“Bukan”, jawab si ahli, “Bukan itu maksudnya.”

Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa: “Kalau kamu tidak
meletakkan batu besar itu sebagai yg pertama, kamu tidak akan pernah bisa
memasukkannya ke dalam toples sama sekali.”

Apakah batu-batu besar dalam hidupmu?
Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yang kamu sayangi,
persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu.
Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama
atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.

Jika kamu mendahulukan hal-hal kecil (kerikil dan pasir) dalam waktumu maka
kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal kecil, kamu tidak akan punya
waktu berharga yg kamu butuhkan untuk melakukan hal-hal besar dan penting
(batu-batu besar) dalam hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s